melepas penatku….

26 04 2008

hay haiii

semua orang yang sedang baca tulisan ini.
aku ngga’ tahu neeh harus nulis apaan. Masalahnya hari ini tuh aku sedang sumpek banget. bukan sekedar banget yaaah tapi buuuaaanget deh pokoknya. Masak akhir2 ini aku kedatangan masalah yang banyak banget.
Mulai dari berangkat sekolah telat sampai dimarahi sama guru yang tiada henti, terus nilai ulanganku minggu ini kurang menggembirakan hatiku yang sedang gundah gulana, terus yang paling parah niih, sepatu kesayanganku yang kena sita sama Bapak/Ibu guru. Aduuuh, gimana seeeh aku ini. Sepatu kesayangku yang telah lama kuidamkan dan kudambakan itu ternyata pindah tangan dengan mudahnya. Sepatu yang bukan sembarang sepatu lagi, itu sepatu aku belinya lamaaa sekali lantaran harus ngumpulkan uang  sakuku dulu. Sekarang telah pergi meninggalkan diriku sendiri di sini. Aku kesepian lho, sepatu… Masak sieeh Ibu guru ku tuh ngga’ mau tahu dengan perasaanku ini, tetap aja ngambil sepatu mungilku itu. Padahal disepatu itu tertera kata yang sangat bijak sekali, “NO DRUGS”.  Lebih bijaksana dari aku seeh ,tapi aku tetap bangga dengan sepatuku itu. Aku berjanji akan menyelamatkanmu sepatu, bertahanlah….aku pasti datang menyelamatkanmu. Sabar yaaaaaaah !

Iklan




semu, tiada berarti

20 04 2008

sejak awal kutak mengerti, hendaknya apa yang harus…..kusadari.  Tak tahu dari mana,  ia pun muncul secara tiba2.  Aku atau dia, mungkin bukan dari keduanya.  Sengaja bersikap biasa saja dan takterlalu lama semua berubah . Mungkin karena begitu indahnya hingga tak bisa dikata.  Bagaikan hanya khayalan semu tiada berarti, bayangan itu mulai pergi dan memudar dari hati sedangkan raga tak mau mengakui .  Sejauh mana kubisa berlari, selama bisa ku berdiri.  Tersentak akan serak….bohong !….itu bohong ! bukan itu …tak mau begitu ….keadaannya berganti begini.  kucoba untuk memahami dunianya demi untuk tetap bersama, meski perbedaan nyata adanya.  Tak bisa dipaksa, itu yang kusangka .  Sejenak terdiam mencoba mengungkap tanda tanya itu.  Meski, walau itu adanya, kutak mau terucapkan kata pisah.  Ternyata justru perbedaan adalah keindahan yang alami.  Keindahan yang tak bisa untuk mungkin disesali.  Aku dan dia telah jauh jalannya, berusaha meraihnya. Kembalilah…….berlarilah……..dalam jalan yang sama.  Akankah ini percuma atau masihkah tersisa asa….

Bagiku……dariku……untuknya……

Demi bisa bersamanya…….. selamanya